KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Perang teknologi di Timur Tengah semakin memanas.
Angkatan Darat United States kini mempercepat pengiriman sistem anti-drone baru ke kawasan tersebut untuk menghadapi serangan drone Iran.
Senjata yang dikirim itu bernama Merops anti-drone system, sebuah drone pencegat yang dirancang khusus untuk memburu drone musuh seperti Shahed-136 drone milik Iran.
Sistem Merops sebelumnya telah diuji dalam konflik antara Russia dan Ukraine.
Di medan perang Ukraina, drone ini digunakan untuk menghadapi serangan drone Shahed yang dipasok Iran kepada Rusia.
Kini, pengalaman tersebut menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk menggunakannya dalam konflik baru di Timur Tengah.
Beberapa unit Merops bahkan sudah dikirim dari stok militer Amerika di Eropa, bersama personel militer yang akan mengoperasikannya sekaligus melatih pasukan sekutu di kawasan.
Menariknya, Amerika juga mempertimbangkan untuk melibatkan Ukraina dalam pelatihan penggunaan sistem ini.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya menyatakan bahwa negara-negara Barat meminta bantuan Kyiv karena Ukraina memiliki pengalaman menghadapi serangan drone Iran selama bertahun-tahun.
Hal ini membuat Ukraina menjadi salah satu negara dengan pengalaman tempur paling intens melawan drone Shahed.
Berbeda dengan sistem pertahanan udara mahal, Merops sebenarnya juga merupakan sebuah drone.
Namun drone ini dirancang untuk menghancurkan drone lain di udara.
Drone tersebut mampu:
mendeteksi target menggunakan radar dan sensor panas
melacak target secara otomatis
dan meledakkan diri di dekat drone musuh.
Merops mampu terbang dengan kecepatan lebih dari 290 kilometer per jam dan mencapai ketinggian sekitar 16.000 kaki.
Salah satu keunggulan utama Merops adalah harganya.
Satu unit drone pencegat ini diperkirakan hanya berharga sekitar 10.000 dolar AS, bahkan bisa turun hingga sekitar 7.000 dolar jika diproduksi massal.
Sebagai perbandingan, satu rudal pencegat dari sistem MIM-104 Patriot missile system dapat berharga sekitar 4 juta dolar.
Perbedaan harga yang sangat besar ini membuat sistem drone pencegat dianggap lebih efisien dalam menghadapi serangan drone murah dalam jumlah besar.
Sejak konflik memanas, Iran telah meluncurkan ratusan drone dan rudal ke pangkalan militer Amerika dan sekutunya di kawasan Teluk.
Beberapa serangan bahkan berhasil merusak sistem radar penting dalam pertahanan udara Amerika, termasuk radar pada sistem THAAD missile defense system.
Menurut laporan militer, United Arab Emirates bahkan menjadi target ratusan drone hanya dalam beberapa hari pertama konflik.
Munculnya sistem seperti Merops menunjukkan bahwa perang modern kini semakin dipenuhi teknologi baru.
Drone murah dapat menjadi ancaman besar bagi sistem pertahanan mahal.
Dan kini, dengan hadirnya drone pemburu drone, pertempuran di langit Timur Tengah memasuki babak baru.
Pertanyaannya sekarang, apakah teknologi ini cukup untuk menghentikan gelombang serangan drone Iran?
#kontan #kontannews #kontantv