Intel: Khamenei Ancang-ancang Kabur ke Rusia, Buntut Demo Iran Makin Brutal


Rabu, 07 Januari 2026 | 14:45 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan memiliki rencana darurat untuk melarikan diri ke luar negeri jika gelombang protes di dalam negeri semakin membesar.

Laporan intelijen menyebutkan, opsi pelarian itu akan diambil bila aparat keamanan dan militer gagal menekan demonstrasi atau mulai membelot.

Rusia disebut sebagai tujuan utama pelarian, dengan Moskwa dinilai sebagai satu-satunya pilihan realistis.

Menurut laporan yang dikutip media Inggris The Times, Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun akan meninggalkan Teheran bersama sekitar 20 orang terdekat, termasuk ajudan dan anggota keluarga, jika situasi keamanan memburuk.

Seorang sumber intelijen mengatakan keputusan itu akan diambil bila menjadi jelas bahwa tentara dan pasukan keamanan yang ditugaskan menekan protes mulai membelot atau tidak lagi mematuhi perintah..

Sumber tersebut mengatakan, bahwa skenario darurat itu telah disiapkan secara rinci.

Rusia disebut sebagai tujuan pelarian yang paling mungkin bagi Khamenei. Beni Sabti, mantan operator intelijen Israel yang selama puluhan tahun menangani Iran, menilai Moskwa sebagai satu-satunya opsi realistis bagi pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Menurut Sabti, Khamenei mengagumi Putin, dan budaya Iran dianggap lebih dekat dengan budaya Rusia.

Karena itu, menurutnya, Rusia akan menjadi pilihan jika Khamenei terpaksa meninggalkan negaranya. Laporan intelijen itu juga menyebutkan bahwa rencana pelarian mencakup jalur keluar dari Teheran jika mereka merasa perlu melarikan diri.

Selain itu, disebutkan pula adanya upaya mengumpulkan aset, properti di luar negeri, dan uang tunai untuk memfasilitasi perjalanan mereka dengan aman.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa skenario terburuk telah diperhitungkan secara serius di lingkaran kekuasaan tertinggi Iran, meski pemerintah secara terbuka masih menyatakan situasi terkendali.

Gelombang protes di Iran dipicu anjloknya nilai mata uang nasional dan memburuknya kondisi ekonomi.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 17 orang tewas hingga Senin akibat bentrokan selama demonstrasi.

Awalnya berfokus pada isu ekonomi, tuntutan massa kemudian meluas. Sejumlah demonstran terdengar meneriakkan slogan seperti Turunkan Republik Iran dan Matilah sang diktator, yang merujuk langsung kepada Khamenei.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa protes terkait ekonomi adalah hal yang sah dan akan direspons melalui dialog.

Namun di lapangan, pasukan keamanan dituding bertindak keras. Kelompok hak asasi manusia menuduh aparat melakukan penargetan warga sipil secara membabi buta.

Situasi ini juga diperumit oleh ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk campur tangan mendukung demonstran. Peringatan tersebut semakin ditegaskan setelah A-S menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, sebuah langkah yang menurut pejabat dan orang dalam dipantau serius oleh Teheran.

#kontantv #kontan #kontannews _________________________________________


Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved